Desain Jendela
kenapa manusia secara evolusioner selalu ingin posisi duduk menghadap ke luar
Coba ingat-ingat lagi saat kita baru saja melangkah masuk ke sebuah kafe. Terutama yang ruangannya agak sepi. Mata kita biasanya secara otomatis memindai seluruh penjuru ruangan. Ke mana arah langkah kaki kita kemudian tertuju? Hampir pasti, kita akan memilih kursi yang membelakangi dinding atau sudut ruangan, dengan pandangan lepas ke arah luar jendela. Jarang sekali dari kita yang dengan sukarela memilih duduk tepat di tengah ruangan kosong, membelakangi pintu masuk. Kenapa kita selalu melakukan pola yang sama? Apakah kita sekadar mencari cahaya yang bagus untuk memotret kopi kita? Ataukah, ada sesuatu yang jauh lebih purba yang diam-diam masih mengendalikan otak kita hingga hari ini?
Mari kita mundur sejenak dan melihat benda yang sering kita anggap remeh ini: jendela. Sejarah jendela sebenarnya punya sisi yang lumayan kelam. Dulu, sebelum kaca bisa diproduksi secara massal, jendela di kastil atau rumah batu purba hanyalah celah sempit di dinding. Fungsinya murni untuk ventilasi udara dan lubang tembak panah, bukan untuk bersantai menikmati pemandangan sore. Saat material kaca mulai populer di Eropa pada abad ke-17, barulah arsitektur manusia berubah drastis. Rumah-rumah perlahan mulai merobek dinding pertahanan tebal mereka untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Tapi, ada sebuah anomali psikologis di sini. Meskipun jendela modern didesain sedemikian rupa demi keindahan estetika, cara tubuh kita berinteraksi dengannya tidak pernah berubah. Kita tidak hanya ingin melihat jendela. Kita secara kompulsif ingin berada di dekatnya, sambil memastikan punggung kita terlindungi tembok. Apa sebenarnya yang sedang ditakuti oleh alam bawah sadar kita?
Untuk menemukan jawabannya, kita harus berani membedah perangkat keras di dalam kepala kita sendiri. Secara biologis, otak manusia tidak banyak berubah sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Kita pada dasarnya masih membawa otak manusia purba yang berevolusi di kerasnya sabana Afrika. Di alam liar yang brutal itu, kelangsungan hidup spesies kita bergantung pada satu aturan main yang sangat sederhana: melihat tanpa terlihat. Dalam sains perilaku evolusioner, konsep ini dirumuskan dalam Prospect-Refuge Theory yang dicetuskan oleh geografer Jay Appleton pada tahun 1975. Prospect adalah kemampuan kita untuk mengawasi lingkungan sekitar dengan jangkauan luas (demi mencari mangsa atau mendeteksi ancaman). Sementara refuge adalah tempat berlindung yang aman dari cuaca buruk atau hewan buas. Sistem limbik kita, terutama bagian otak pemindai ancaman bernama amygdala, terus-menerus menuntut dua hal ini. Saat kita gagal mendapatkan prospect atau refuge, otak akan langsung melepaskan hormon stres kelangsungan hidup.
Inilah momen rahasianya, teman-teman. Alasan mengapa desain jendela selalu memikat kita bukan sekadar urusan sirkulasi udara atau pencahayaan alami. Jendela modern sebenarnya adalah simulasi paling sempurna dari kondisi prospect dan refuge leluhur kita! Saat kita duduk membelakangi dinding padat (refuge) dan menatap keluar melalui selembar jendela kaca (prospect), otak primitif kita mendesah kelegaan. Kaca memberikan ilusi keamanan evolusioner yang luar biasa. Material ini memungkinkan kita memantau "sabana" modern kita (jalanan kota yang sibuk, orang berlalu-lalang, atau mobil yang lewat) tanpa kita harus merasakan ancaman fisik dari luar. Otak kita secara harafiah dibanjiri hormon dopamin karena merasa telah berhasil mengamankan posisi taktis terbaik. Di momen itu, kita bukan sekadar pekerja kantoran yang sedang menyesap teh. Secara evolusioner, kita kembali menjadi pemburu-pengumpul yang sedang mengintai aman dari dalam gua kaca yang hangat.
Menyadari hal ini rasanya membuat kita bisa sedikit lebih berempati pada tubuh dan pikiran kita sendiri. Terkadang kita merasa gelisah tanpa alasan yang jelas saat berada di ruang tunggu tanpa jendela. Atau kita mendadak merasa cemas saat terpaksa duduk di tengah ruangan terbuka yang riuh. Ketahuilah, itu bukan karena kita antisosial atau aneh. Itu hanyalah suara leluhur kita yang berbisik kuat dari dalam pita DNA kita, mengingatkan kita untuk selalu waspada demi bertahan hidup. Jadi, besok-besok saat kita diam-diam mempercepat langkah demi merebut kursi dekat jendela di kereta atau restoran, tersenyumlah kecil. Kita sedang merayakan sebuah insting purba yang telah menjaga spesies kita tetap hidup selama ribuan generasi. Lewat sebuah desain arsitektur sederhana bernama jendela, kecemasan masa lalu kita berhasil didamaikan dengan kenyamanan masa kini.